TVRINews, Kota Mataram
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan operasi hujan buatan untuk mengatasi kekeringan berkepanjangan yang melanda Pulau Lombok dan Sumbawa. Selain itu, salat istisqa atau salat meminta hujan secara massal dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan Pemprov NTB tengah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melaksanakan teknologi modifikasi cuaca sebagai upaya mengatasi kekeringan.

“Pelaksanaan hujan buatan bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memadai,”kata Lalu Muhamad Iqbal, Kamis, 15 Oktober 2026.
Selain menyiapkan operasi hujan buatan, Pemprov NTB juga akan menetapkan status tanggap darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penetapan status tersebut akan dituangkan dalam surat keputusan gubernur.
Di tengah upaya penanganan kekeringan, pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan dengan intensitas tinggi yang diprediksi terjadi pada akhir November mendatang. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mulai membersihkan saluran drainase dan sungai guna mengantisipasi potensi banjir,”tandasnya.
Pemprov NTB melakukan langkah penanganan kekeringan sekaligus mengantisipasi potensi banjir sebagai upaya mengurangi risiko bencana di wilayah Lombok dan Sumbawa.










