TVRINews, Kabupaten Lombok Timur
Memasuki musim kemarau, kawasan perbukitan dan savana di Kabupaten Lombok Timur menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi vegetasi yang mulai mengering, terutama di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, dinilai berpotensi memicu munculnya titik api yang dapat mengancam kelestarian ekosistem.
Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengingatkan seluruh pendaki dan pengelola kawasan wisata alam untuk meningkatkan kewaspadaan selama aktivitas di kawasan gunung berlangsung.
Penanggung Jawab Pengendalian Kebakaran Hutan TNGR, Muhammad Fajrin, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan pendakian menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mencegah terjadinya kebakaran.

“Kepatuhan terhadap aturan pendakian adalah kunci utama keselamatan bersama. Kami meminta pengelola kawasan untuk meningkatkan intensitas pengawasan dan rutin memberikan peringatan kepada para pengunjung maupun pendaki, terutama selama musim kemarau berlangsung,” ujar Muhammad Fajrin, Senin, 8 Juni 2026
Berdasarkan hasil pemantauan petugas, hamparan rumput kering mulai terlihat di sejumlah titik sepanjang jalur pendakian. Kondisi tersebut ditemukan mulai dari area perkemahan hingga pos-pos pendakian di kawasan yang lebih tinggi.
Wilayah yang paling rawan saat ini berada di Jalur Sembalun, salah satu jalur pendakian populer yang memiliki hamparan savana luas dan vegetasi yang mulai mengering akibat minimnya curah hujan.
Muhammad Fajrin menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat kawasan Sembalun lebih rentan terhadap kebakaran, terutama jika terdapat sumber api dari aktivitas manusia.

Karena itu, para pendaki diminta untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan selama berada di jalur pendakian maupun area perkemahan.
Selain itu, penggunaan api unggun juga harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Setiap api unggun wajib diawasi dan dipastikan benar-benar padam sebelum lokasi ditinggalkan.
“Proses pembuatan api unggun harus dipantau dan dipastikan mati total sebelum ditinggalkan agar tidak memicu munculnya titik api. Upaya pencegahan ini sangat penting karena kebakaran dapat mengancam kelestarian ekosistem dan menimbulkan kerusakan lingkungan yang luas,” tegasnya.
TNGR berharap seluruh pendaki dapat lebih disiplin dalam mematuhi aturan selama berada di kawasan konservasi. Dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan bersama, risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Rinjani selama musim kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin.
Selain menjaga keselamatan pengunjung, langkah pencegahan tersebut juga penting untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem yang menjadi bagian dari kawasan konservasi Gunung Rinjani.










