TVRINews, Lombok Tengah
Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menerima permintaan 66 penerbangan non-reguler untuk mendukung mobilitas penonton dan wisatawan selama MotoGP 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 9-11 Oktober 2026.
Data hingga 16 September 2026 mencatat 48 extra flight, 11 charter flight, empat penerbangan dengan pergantian ke pesawat berkapasitas lebih besar, serta tiga positioning flight.
General Manager BIZAM Aidhil Philip Julian mengatakan permintaan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan konektivitas udara menuju Lombok menjelang pelaksanaan ajang balap internasional tersebut.
Jumlah penerbangan tambahan masih dinamis dan berpotensi bertambah hingga mendekati pelaksanaan MotoGP, menyesuaikan kebutuhan dan keputusan masing-masing maskapai.
Peningkatan aktivitas penerbangan juga sejalan dengan pertumbuhan trafik penumpang BIZAM sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, jumlah penumpang mencapai 1,8 juta orang atau meningkat 15,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 1,5 juta penumpang.
Sementara itu, pergerakan pesawat mencapai 21.348 kali, meningkat 28,6 persen dibandingkan 16.596 pergerakan pada periode yang sama 2025.
Angka tersebut diperkirakan kembali meningkat saat penonton, pembalap, kru, wisatawan, dan pekerja penyelenggara MotoGP mulai berdatangan ke Lombok.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, pengelola bandara menyiapkan kapasitas layanan, fasilitas, dan personel. Koordinasi dengan berbagai pihak juga dilakukan untuk menangani peningkatan pergerakan penumpang dan pesawat selama periode MotoGP.
Penataan terminal turut dilakukan menjelang kedatangan wisatawan. Sejumlah area, mulai dari terminal kedatangan hingga keberangkatan, ditata dengan unsur MotoGP serta ornamen yang mengangkat kearifan lokal NTB.
Aidhil mengatakan penataan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan suasana penyambutan MotoGP, tetapi juga memperkenalkan karakter dan budaya lokal kepada wisatawan sejak mereka tiba di Lombok.










