TVRINews, Mataram
Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat pada triwulan II 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 7,41 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional maupun kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan pertumbuhan ekonomi NTB pada periode tersebut terutama didorong oleh kinerja ekspor hasil industri pengolahan, termasuk dampak lanjutan dari relaksasi ekspor konsentrat tambang pada April 2026.
“Perekonomian NTB pada triwulan dua tahun 2026 tumbuh sebesar 7,41 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional maupun kawasan Bali Nusa Tenggara,” ujar Hario K. Pamungkas, Kamis, 3 September 2026.
Selain ekspor, konsumsi rumah tangga juga tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut didukung momentum Idul Adha serta periode libur sekolah yang mendorong aktivitas konsumsi masyarakat.
Secara sektoral, struktur perekonomian NTB masih ditopang sejumlah sektor utama. Sektor pertanian memberikan kontribusi sekitar 21,9 persen, sementara sektor pertambangan memiliki kontribusi sekitar 25 persen terhadap perekonomian daerah.
Sementara itu, sektor perdagangan, konstruksi, transportasi, dan industri pengolahan juga memberikan kontribusi yang cukup besar.
Dari sisi pertumbuhan, sektor pertambangan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 30,57 persen, disusul industri pengolahan sebesar 7,45 persen, perdagangan 4,33 persen, dan pertanian 2,54 persen.
Hario K. Pamungkas menilai sektor pariwisata juga memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian NTB. Selain berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang mampu menyerap tenaga kerja di daerah.
Di sisi lain, Bank Indonesia mendorong agar pertumbuhan industri pengolahan terus diperkuat. Penguatan sektor ini dinilai penting agar perekonomian NTB tidak hanya bergantung pada produksi komoditas mentah, khususnya hasil pertambangan.
“Pertumbuhan industri pengolahan perlu terus diperkuat agar NTB tidak hanya menjadi daerah penghasil komoditas tambang, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan di dalam daerah,” tutupnya.










