TVRINews, Lombok Tengah
Sebanyak 53 warga Desa Wisata Hijau Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mendapat pelatihan pelayanan pariwisata untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperbesar peluang ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata.
Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemandu wisata, pengelola homestay, pengelola destinasi, pelaku UMKM, terapis spa, mahasiswa, ibu rumah tangga hingga wiraswasta. Materi yang diberikan mencakup keramahtamahan, komunikasi, sadar wisata, serta standar pelayanan kepada wisatawan.
Pelatihan tidak hanya menekankan pentingnya bersikap ramah kepada wisatawan. Masyarakat juga dibekali pemahaman mengenai cara mengenali kebutuhan wisatawan, dan memberikan pelayanan yang mampu menciptakan pengalaman berkunjung yang nyaman.
General Manager The Mandalika, Pari Wijaya, mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Menurutnya, masyarakat lokal perlu memiliki kemampuan yang memadai agar dapat mengambil peran lebih besar dalam perkembangan pariwisata di daerahnya.
"Pengembangan destinasi yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya," kata Pari, dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Ia berharap peningkatan kompetensi masyarakat dapat memperkuat daya saing desa wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi warga lokal.

Transfer Pengetahuan dari Masyarakat
Pelatihan tersebut juga melibatkan masyarakat lokal sebagai tenaga pelatih. Salah satunya Malik Abdul Aziz, warga desa penyangga The Mandalika yang sebelumnya mengikuti Training on Trainer (ToT) InJourney.
Setelah mendapatkan pelatihan, Malik kemudian dipercaya untuk membagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat lainnya. Pola ini dinilai penting karena peningkatan kapasitas masyarakat tidak hanya bergantung pada tenaga dari luar. Warga yang telah memiliki kompetensi dapat menjadi penggerak sekaligus membagikan pengetahuan kepada masyarakat di lingkungannya.
Salah satu peserta pelatihan, Hj. Zainab, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai konsep hospitality. Menurutnya, pelayanan kepada wisatawan tidak cukup hanya dengan keramahan, tetapi juga harus mampu memahami kebutuhan wisatawan dan membuat mereka merasa nyaman.
"Pelatihan ini membuka wawasan kami bahwa hospitality bukan hanya tentang bersikap ramah, tetapi juga memahami kebutuhan wisatawan," ujarnya.
Zainab berharap keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan usaha dan pelayanan wisata di Desa Bilebante.
Perkuat Posisi Masyarakat Lokal
Desa wisata tidak hanya membutuhkan destinasi yang menarik, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan berkualitas.
Kualitas interaksi antara wisatawan dan masyarakat menjadi salah satu bagian dari pengalaman perjalanan. Karena itu, peningkatan kompetensi warga menjadi penting agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya mendatangkan kunjungan, tetapi juga membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Program InJourney Hospitality House Batch I 2026 mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Dinas Pariwisata dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pemerintah Kecamatan Pringgarata serta Pemerintah Desa Bilebante.
Pelatihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan masyarakat menghadapi meningkatnya aktivitas pariwisata di kawasan Lombok Tengah, termasuk menjelang penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.
Bagi masyarakat desa wisata, peningkatan keterampilan pelayanan menjadi modal penting agar warga lokal tidak hanya menjadi penonton perkembangan pariwisata, tetapi dapat mengambil peran sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi pariwisata.









