TVRINews, Nusa Tenggara Barat
Angka prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih mencapai 29,8 persen berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Angka tersebut masih berada di atas target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi sekitar 14,2 persen pada 2029.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Sumbawa, Junaedi, mengatakan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat.
Berdasarkan data SKI, prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa tercatat 29,8 persen. Sementara itu, data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Masyarakat (e-PPGBM) mencatat angka 8,67 persen.
"Dari dua data tersebut yang menjadi acuan adalah hasil Survei Kesehatan Indonesia sebesar 29,8 persen," ujar Junaedi, Senin, 14 September 2026.
Menurut Junaedi, angka tersebut menunjukkan perlunya penguatan berbagai upaya pencegahan dan penanganan stunting di masyarakat. Keterlibatan seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk mengoptimalkan berbagai intervensi yang dilakukan.
Ia mengatakan, penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dukungan pihak swasta juga diperlukan melalui berbagai program yang dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dalam pemenuhan gizi dan perbaikan lingkungan.
"Permasalahan stunting tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk pihak swasta melalui program-program CSR. Upaya perbaikan gizi buruk, pembangunan posyandu ataupun sanitasi lingkungan perlu dilakukan," jelasnya.
Junaedi juga mengingatkan bahwa stunting perlu ditangani secara serius karena dapat berdampak terhadap tumbuh kembang anak dalam jangka panjang. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan sejak masa remaja, sebagai persiapan sebelum memasuki usia dewasa dan memiliki anak.
Selain melalui intervensi pemerintah dan dukungan pihak swasta, masyarakat juga diharapkan berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam berbagai jenis sayuran.
"Manfaatkan pekarangan untuk menanam sayur guna mempermudah pemenuhan gizi seimbang, agar generasi muda jauh dari persoalan stunting," pungkasnya.
Junaedi berharap kolaborasi seluruh pihak dapat terus dilakukan untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa. Dengan keterlibatan bersama, upaya pencegahan dan penanganan stunting diharapkan berjalan lebih optimal sehingga prevalensinya dapat ditekan.










