TVRINews, Kota Mataram
Nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan pertama periode Januari hingga Maret 2026 tercatat mencapai 707,92 juta dolar Amerika Serikat. Angka tersebut meningkat drastis hingga 3.990,19 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin, mengatakan lonjakan ekspor tersebut didorong meningkatnya kontribusi produk hasil olahan smelter yang kini mulai mendominasi pasar ekspor.

(Foto: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin)
"Sektor tambang nonmigas masih menjadi tulang punggung utama ekspor NTB dengan kontribusi mencapai 92,02 persen atau senilai 522,65 juta dolar AS," ujar Wahyudin, Rabu, 13 Mei 2026.
Ia menjelaskan, komoditas unggulan NTB masih didominasi konsentrat tembaga yang dikirim melalui Pelabuhan Benete, Kabupaten Sumbawa Barat, dengan tujuan utama Tiongkok dan Jepang.
Selain sektor tambang, NTB juga berhasil meningkatkan ekspor berbagai komoditas non-tambang. Produk perhiasan dan permata seperti perak dan mutiara budidaya mencatat nilai ekspor sebesar 9,6 juta dolar AS dengan pasar tujuan Australia, Jepang, dan Hongkong melalui Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai.
Sementara itu, produk olahan hasil perikanan seperti udang dan tiram awetan turut menyumbang devisa sebesar 1,07 juta dolar AS dengan tujuan pasar Amerika Serikat dan Singapura.
"Ekspor produk kelautan segar seperti udang vaname, lobster batu, dan ikan kering juga masih menunjukkan performa yang stabil," jelasnya.
Komoditas hasil kelautan tersebut diekspor menuju Malaysia dan Puerto Rico melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).
Peningkatan nilai ekspor ini dinilai menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi NTB, terutama dari sektor pertambangan dan hasil olahan unggulan daerah.










