TVRINews, Kab. Sumbawa
Pelaku usaha tempe di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengeluhkan kenaikan harga kedelai dan plastik yang berdampak terhadap biaya produksi. Kondisi tersebut membuat sejumlah produsen terpaksa mengurangi kapasitas produksi untuk menekan beban operasional.
Salah satu pelaku usaha tempe di Kabupaten Sumbawa, Dian Ari Prasetyo, mengatakan harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir. Saat ini, harga kedelai mencapai Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram.
Dian mengatakan kenaikan harga kedelai dipengaruhi nilai tukar dolar terhadap rupiah, mengingat bahan baku yang digunakan masih bergantung pada kedelai impor. Selain itu, ketersediaan pasokan dan proses pengiriman dari negara asal ke Indonesia turut memengaruhi harga.
“Biaya bahan baku yang meningkat berdampak langsung terhadap kegiatan produksi dan daya beli konsumen,” ujar Dian Ari Prasetyo, Selasa, 11 Agustus 2026.
Meski biaya produksi meningkat, produsen memilih tidak menaikkan harga jual tempe demi mempertahankan daya beli masyarakat. Sebagai gantinya, ukuran produk diperkecil agar harga jual tetap terjangkau.
Beban produksi juga semakin bertambah akibat kenaikan harga plastik serta keterbatasan LPG 3 kilogram yang digunakan dalam proses memasak kedelai.
Kondisi tersebut membuat produsen mengurangi volume produksi. Jika sebelumnya mampu mengolah hingga 200 kilogram kedelai per hari, kini produksinya turun menjadi sekitar 100 hingga 150 kilogram per hari.
Pelaku usaha berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, salah satunya melalui subsidi kedelai, agar usaha tempe tetap mampu mempertahankan produksi di tengah meningkatnya biaya operasional.








