TVRINews, Lombok Tengah
Status sebagai tuan rumah dinilai menjadi keuntungan bagi pembalap Indonesia Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada 9–11 Oktober 2026.
Pengamat otomotif sekaligus Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) periode 2022–2026, Andhi Satria, mengatakan sesi latihan yang dijalani kedua pembalap pekan lalu menjadi bekal penting untuk menghadapi balapan di hadapan publik sendiri.
Menurut Andhi, latihan tersebut tidak hanya bertujuan menambah jumlah putaran di lintasan, tetapi juga mengembalikan insting balap dan membangun kembali muscle memory terhadap karakter Sirkuit Mandalika.
"Latihan ini bukan sekadar menambah putaran, tetapi juga mengembalikan insting balap serta membangun kembali muscle memory. Semua itu akan menjadi bekal penting ketika mereka tampil di hadapan pendukung sendiri," ujar Andhi.
Ia menjelaskan, Mario dan Veda memanfaatkan sesi latihan untuk menemukan racing line terbaik, memahami kembali karakter permukaan lintasan, serta beradaptasi dengan hembusan angin di sektor tikungan enam hingga tikungan sepuluh yang menjadi salah satu tantangan khas Sirkuit Mandalika.
Keunggulan tersebut dinilai menjadi nilai tambah karena sebagian besar pembalap luar negeri baru akan mulai beradaptasi dengan kondisi lintasan saat sesi latihan bebas menjelang balapan.
Bagi Mario Aji yang kini berlaga di kelas Moto2, pengalaman beberapa kali membalap di Mandalika membuat proses adaptasinya diperkirakan lebih cepat. Pembalap asal Magetan, Jawa Timur, itu dinilai masih memahami karakter setiap tikungan sehingga dapat segera menemukan ritme balapnya.
Sementara itu, Veda Ega Pratama disebut memiliki peluang memberikan kejutan. Penampilannya di berbagai ajang internasional sepanjang musim 2026 menunjukkan perkembangan yang konsisten dan menjadi modal penting untuk bersaing di kandang sendiri.
"Target utama Veda tentu meraih hasil terbaik di setiap balapan. Dengan bekal yang dimiliki, peluang untuk bersaing di barisan depan bahkan meraih podium tetap terbuka apabila mampu menjaga konsistensi," kata Andhi.
Selain penguasaan lintasan, faktor cuaca juga menjadi keuntungan bagi kedua pembalap Indonesia. Pada sesi latihan hari kedua, Veda menyelesaikan 90 putaran, sedangkan Mario menuntaskan 69 putaran di bawah suhu tinggi khas Mandalika.
Pengalaman tersebut dinilai membuat keduanya lebih siap menghadapi temperatur lintasan yang dapat mencapai 50 hingga 55 derajat Celsius, terutama pada fase akhir balapan saat ketahanan fisik mulai menjadi penentu hasil.
Meski demikian, Andhi mengingatkan balapan di kandang sendiri juga membawa tekanan tersendiri karena tingginya ekspektasi publik. Menurutnya, Mario dan Veda perlu menjaga fokus agar dapat memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah menjadi hasil positif.
Ia menambahkan, apabila salah satu pembalap Indonesia mampu mencetak prestasi di Mandalika, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pembalap tersebut, tetapi juga dapat mendorong perkembangan olahraga balap motor nasional.
"Prestasi pembalap Indonesia di Mandalika akan meningkatkan kepercayaan sponsor terhadap pembinaan pembalap nasional sekaligus memotivasi lahirnya talenta-talenta baru melalui ajang seperti Pertamina Mandalika Racing Series dan Indonesia Junior Talent Cup," ujar Andhi.









