TVRINews, Kabupaten Lombok Tengah
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah optimistis produktivitas padi pada musim tanam ketiga tahun ini dapat melampaui target. Optimisme tersebut didukung penerapan sistem Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) serta pendampingan intensif oleh penyuluh pertanian lapangan.
Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah mengerahkan sebanyak 150 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk mendampingi lahan percontohan atau demplot. Masing-masing penyuluh mengampu lahan seluas 33 hektare, sehingga total lahan yang menjadi lokasi percontohan mencapai sekitar 4.950 hektare.
Lahan tersebut menerapkan metode penanaman berbasis teknologi modern melalui sistem PM-AAS. Penerapan sistem ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mendorong produktivitas padi pada musim tanam ketiga yang berlangsung di tengah kondisi musim kemarau.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, Zaenal Arifin, mengatakan penerapan sistem PM-AAS diperkirakan mampu menghasilkan produktivitas hingga 10 ton padi per hektare.

(Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, Zaenal Arifin. [Foto: Riadatussholihah/TVRI NTB])
"Dengan sistem PM-AAS ini, kami perkirakan bisa menghasilkan sampai 10 ton per hektare," ujar Zaenal Arifin, Selasa, 1 September 2026.
Jika produktivitas tersebut dapat tercapai pada lahan demplot seluas 4.950 hektare, maka potensi produksi mencapai sekitar ratusan ribu ton. Proyeksi ini mengumulasi hasil panen dari lahan binaan PPL maupun lahan mandiri warga.
Selain berorientasi pada peningkatan hasil produksi, penerapan PM-AAS juga mulai mengubah pola tanam petani pada musim tanam ketiga. Jika sebelumnya musim tanam ketiga lebih banyak dimanfaatkan untuk tanaman palawija, kini sebagian petani kembali menanam padi dengan pendekatan budidaya berbasis teknologi modern.
Kemudian Zaenal Arifin menjelaskan, perubahan utama dalam sistem PM-AAS terletak pada teknik penanaman dan pengelolaan air. Petani tidak lagi melalui proses penyemaian bibit seperti pola sebelumnya, melainkan menggunakan metode tanam langsung.
"Sistem PM-AAS ini hanya mengubah pola tanam dari sebelumnya dengan penyemaian bibit padi menjadi langsung ditanam tanpa disemai. Kemudian menambahkan parit sekat untuk mempermudah pengairan pada tanaman padi," jelas Zaenal.
Menurutnya, penerapan pola tersebut diharapkan dapat membantu petani mengoptimalkan budidaya padi pada musim kemarau, terutama melalui pengelolaan air yang lebih teratur.
Penerapan PM-AAS sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas lahan dan menjaga keberlanjutan produksi padi di Lombok Tengah, termasuk pada musim tanam ketiga.









