TVRINews, Kabupaten Sumbawa
Masyarakat Desa Tepal di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk kehidupan sehari-hari untuk kebutuhan listrik mereka.
Dengan kapasitas 40 kW, pembangkit ini menjadi tumpuan energi bagi 1.872 warga di 315 rumah tangga. Tak hanya mengaliri permukiman, listriknya juga menggerakkan 58 UMKM serta menunjang 13 fasilitas umum, mulai dari sekolah, masjid, hingga puskesmas pembantu.
Tim Peneliti dari Fakultas Rekayasa Sistem Universitas Tekonologi Sumbawa (UTS), Mietra Anggara, menyatakan di tengah potensi sumber daya air yang dinilai stabil sepanjang tahun, pemanfaatan PLTMH di Desa Tepal saat ini masih jauh di bawah kapasitas terpasangnya.
”Berdasarkan data kondisi eksisting yang ada, daya yang termanfaatkan masyarakat setempat hanya sekitar 6–9 kW atau sekitar 20 persen dari kapasitas terpasang,” jelas Mietra, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kondisi tersebut berdampak pada kesetabilan pasokan listrik dimana fluktuasi frekuensi, penurunan tegangan, dan gangguan operasional masih terjadi dan berpengaruh terhadap aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat.
Ketidakstabilan listrik turut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan UMKM. Salah satu sektor yang berpotensi terdampak adalah usaha pengolahan kopi, yang menjadi salah satu komoditas unggulan Desa Tepal yang memiliki luas perkebunan sekitar 187 hektare.
”Persoalan itu menjadi salah satu latar belakang dari kami Tim Dosen Fakultas Rekayasa Sistem Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) untuk mengoptimalkan PLTMH Desa Tepal,” ucapnya.
Berdasarkan pantauan, sebagian pelaku usaha masih mengandalkan genset berbahan bakar fosil sebagai sumber energi cadangan.
“Penggunaan sumber energi tersebut menambah biaya operasional dan memiliki dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan pemanfaatan energi terbarukan dari PLTMH,” ujarnya.
Tim ini terdiri dari Mietra Anggara, Mukhtar Hadi, dan Silvia Firda Utami. Penelitian mereka didanai pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Peningkatkan keandalan sistem pembangkitan dan distribusi energi dilakukan dengan memasang peralatan berupa panel distribusi listrik.
Panel kontrol dirancang dan dirakit di laboratorium Teknik Mesin UTS sebelum dipasang di lokasi PLTMH Desa Tepal. Prosesnya meliputi pemasangan komponen proteksi, pengujian fungsi, pemeriksaan keselamatan instalasi, instalasi panel distribusi, penyambungan kabel daya dan kontrol, serta pengujian awal system.
Sebelumnya, pengoperasian PLTMH masih menghadapi persoalan pada sistem distribusi, proteksi, monitoring, serta kapasitas sumber daya manusia pengelola. Selama ini pengoperasian turbin masih dilakukan secara manual dan belum memiliki sistem kendali otomatis yang dapat menyesuaikan perubahan debit air.
“Selain itu, belum tersedia sistem manajemen beban yang mengatur distribusi energi secara terukur di tingkat pengguna. Tidak adanya pembatas konsumsi listrik di rumah tangga juga disebut menyebabkan penggunaan energi tidak terkendali dan distribusi listrik menjadi tidak merata,” sambungya.
Keterbatasan pasokan listrik juga berpengaruh terhadap aspek sosial seperti, aktivitas pendidikan dan layanan publik, khususnya pada malam hari, ikut menghadapi kendala ketika pasokan listrik tidak stabil.
“Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan Desa Tepal bukan semata-mata ketersediaan sumber energi. Desa tersebut telah memiliki infrastruktur PLTMH dan sumber daya air yang dapat dimanfaatkan, tetapi kapasitas pembangkit belum termanfaatkan secara optimal,” tegas Mietra.
Tim pengabdian UTS juga melakukan sosialisasi, identifikasi permasalahan, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi dengan melibatkan pengelola PLTMH serta masyarakat.
“Tahapan berikutnya meliputi commissioning penuh, pelatihan lanjutan operator, monitoring performa sistem, dan evaluasi pascaimplementasi,” sambungnya.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemasangan perangkat. Salah satu sasaran utamanya adalah meningkatkan kemampuan pengelola lokal dalam mengoperasikan, memonitor, dan memelihara sistem pembangkit sehingga pengelolaan PLTMH dapat dilakukan secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
“Dengan kondisi Desa Tepal yang belum terjangkau jaringan PLN, optimalisasi PLTMH memiliki arti strategis bagi keberlangsungan aktivitas masyarakat. Keberhasilan program nantinya tidak hanya diukur dari terpasangnya perangkat kendali dan panel distribusi, tetapi juga dari seberapa besar peningkatan keandalan listrik dan kemampuan masyarakat memanfaatkan energi tersebut untuk kebutuhan rumah tangga, layanan publik, pendidikan, dan kegiatan ekonomi,” tutupnya.










