TVRINews, Kab. Lombok Barat
Penurunan tingkat hunian hotel di kawasan Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memicu kekhawatiran terhadap potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan. Kondisi ini dipengaruhi tekanan ketidakpastian ekonomi global yang berdampak langsung terhadap industri pariwisata, khususnya perhotelan yang bergantung pada kunjungan wisatawan dan kegiatan bisnis.
Ketua Asosiasi Hotel Senggigi yang juga General Manager Holiday Resort Lombok, I Ketut Murtajaya Kusuma, mengatakan ancaman PHK dapat terjadi apabila tingkat okupansi hotel terus menurun dan bertahan di bawah angka 40 persen dalam jangka waktu yang lama.
“Jika tingkat hunian hotel terus berada di bawah 40 persen dalam waktu lama, tentu akan sangat berat bagi industri untuk bertahan. Risiko pengurangan tenaga kerja atau PHK bisa menjadi langkah yang sulit dihindari,” ujar I Ketut Murtajaya Kusuma, Selasa, 5 Mei 2026.
Saat ini, rata-rata okupansi hotel di kawasan Senggigi masih berada di kisaran 50 persen. Hotel yang mengandalkan pasar MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) mencatat tingkat hunian sekitar 40 persen, sementara hotel yang fokus pada pasar wisata atau leisure masih mampu menjaga okupansi di atas 50 persen.
Menurut Ketut, angka tersebut masih tergolong aman untuk menjaga operasional hotel tetap berjalan. Namun, kondisi ini belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi usaha maupun peningkatan investasi di sektor perhotelan.
“Secara umum kondisi Senggigi masih relatif stabil, tetapi belum sepenuhnya pulih. Saat ini pelaku usaha lebih fokus menjaga keberlangsungan operasional dibanding melakukan ekspansi,” tambahnya.
Untuk menghadapi tekanan ekonomi, industri perhotelan di Senggigi mulai menerapkan berbagai langkah antisipasi. Strategi efisiensi menjadi kunci utama agar pendapatan yang terbatas tetap mampu menutup biaya operasional.
“Penghematan menjadi langkah utama. Kami melakukan evaluasi pada seluruh pos anggaran, menekan pengeluaran, dan menyesuaikan biaya operasional dengan kondisi pendapatan yang saat ini menurun,” jelas Ketut.
Pelaku industri berharap kondisi ekonomi global segera membaik agar sektor pariwisata, khususnya perhotelan di Senggigi, dapat kembali tumbuh dan memberikan kepastian bagi keberlangsungan usaha maupun lapangan kerja di sektor tersebut.










