TVRINews, Kabupaten Lombok Tengah
Stabilitas harga merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Inflasi yang stabil tidak hanya mencerminkan terjaganya daya beli masyarakat, tetapi juga memberikan kepastian bagi dunia usaha, mendukung aktivitas produksi, serta memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Namun demikian, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas mengingatkan pengendalian inflasi pangan masih menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
“Tantangan ini mulai dari perubahan iklim, fluktuasi produksi musiman, hingga keterbatasan infrastruktur penyimpanan dan distribusi pangan,” jelas Hario, Rabu, 21 Oktober 2026.
Pada September 2026, inflasi NTB tercatat sebesar 4,18 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,03 persen (yoy). Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,36 persen (mtm), antara lain dipengaruhi oleh peningkatan harga sejumlah komoditas pangan, termasuk cabai rawit dan tomat.

“Perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian bersama, termasuk di Kabupaten Lombok Tengah, khususnya harga cabai yang secara berulang menjadi salah satu sumber tekanan inflasi NTB karena karakteristik produksinya yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim,” tambah Hario.
Ke depan, tantangan tersebut berpotensi semakin meningkat seiring dengan risiko fenomena El Niño pada tahun 2027, yang perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu kesinambungan produksi dan pasokan pangan.
Kondisi ini mengingatkan Bank Indonesia bahwa pengendalian inflasi tidak cukup hanya melalui intervensi harga dalam jangka pendek, tetapi perlu diperkuat melalui peningkatan produktivitas, penguatan distribusi, dan hilirisasi pangan secara berkelanjutan.
“Oleh karena itu, kami bersama Pemerintah Daerah dan seluruh anggota TPID terus memperkuat sinergi melalui kerangka 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif,” ujar Hario.
Sementara itu sosialisasi Hilirisasi Pangan secara khusus difokuskan pada penguatan hilirisasi bawang merah, sebagai salah satu komoditas pangan strategis NTB yang dalam beberapa bulan terakhir sempat mengalami penurunan harga dan memberikan andil terhadap deflasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengendalian inflasi tidak hanya berkaitan dengan kenaikan harga, tetapi juga dengan fluktuasi harga yang dapat memengaruhi kesejahteraan petani, terutama ketika pasokan melimpah pada periode panen raya.
“Bank Indonesia ingin mendorong peningkatan kapasitas petani dan pelaku UMKM dalam mengolah bawang merah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti bawang goreng, bawang kering, hingga produk bumbu olahan, yang memiliki umur simpan lebih panjang dan peluang pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Hilirisasi diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan penurunan harga saat panen raya, menjaga nilai ekonomi hasil pertanian, sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Dengan demikian, hilirisasi dan diversifikasi pangan menjadi dua strategi yang saling melengkapi, yaitu menjaga nilai ekonomi hasil produksi di tingkat petani dan pembudidaya, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pilihan pangan yang terjangkau.
Melalui pendekatan tersebut, Bank Indonesia ingin memastikan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya bersifat responsif terhadap kenaikan harga, tetapi juga semakin antisipatif terhadap berbagai risiko yang mungkin terjadi.
“Kami mengajak semua pihak untuk wujudkan pengendalian inflasi yang tidak hanya responsif dalam jangka pendek, tetapi juga antisipatif dan berkelanjutan melalui penguatan ketahanan pangan daerah,” tutup Hario.










