TVRINews, Kabupaten Lombok Timur
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang Januari hingga Juli 2026 tetap berada di atas angka 100.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum petani di NTB masih memperoleh keuntungan dari usaha taninya meski sempat mengalami penurunan pada masa panen raya.
Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin, menjelaskan NTP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan petani.
Hingga Juli 2026, NTP NTB tercatat sebesar 127,83, yang menandakan pendapatan petani masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang mereka keluarkan.
"Nilai Tukar Petani hingga Juli 2026 masih berada di atas angka 100. Hal ini menunjukkan kondisi yang baik karena pendapatan yang diterima petani masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan," ujar Wahyudin, Selasa, 4 Agustus 2026.
Meski demikian, NTP NTB pada Juli 2026 mengalami penurunan sebesar 2,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun 3,00 persen, lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayarkan petani sebesar 0,63 persen.
Menurut Wahyudin, penurunan tersebut merupakan kondisi yang lazim terjadi saat musim panen raya.
Harga komoditas gabah dan jagung sebagai penyumbang utama NTP di NTB mengalami penurunan akibat meningkatnya pasokan di pasar sehingga berdampak pada berkurangnya pendapatan petani.
Selain itu, inflasi dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan yang harus dibayar petani turut memengaruhi pergerakan NTP.
Ia berharap data tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan untuk menjaga stabilitas harga komoditas pertanian sekaligus mempertahankan tingkat kesejahteraan petani.
"Melalui penyajian data ini, kami berharap pemerintah daerah dapat melihat berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat sehingga dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan Nilai Tukar Petani agar tetap berada pada level yang menguntungkan petani," tutupnya.









